abdala

Vice Rector for Academic and Human Resources Development – IAIN Sunan Ampel

Oleh Abd A’la

            Pandangan tentang Islam sebagai agama intoleran, agama kekerasan dan sejenisnya merupakan realitas yang hingga saat ini masih menghinggapi sebagian orang dan kelompok di luar Islam. Mereka beranggapan, kekerasan yang dilakukan sebagian orang Islam terhadap kelompok di luar mereka dan terhadap penganut di luar Islam muncul dari ajaran Islam yang intoleran. Dalam pandangan mereka, kekerasan yang dilakukan oleh orang dan kelompok muslim tertentu itu merupakan representasi dari Islam dan umat Islam. continue reading…

Oleh Abd A’la

Dimuat di Lentera, Surabaya Post, Senin 18 Juli 2011

Fenomena di sekitar kita memperlihatkan, betapa banyak umat Islam yang telah melakukan solat, berpuasa penuh setiap bulan Ramadhan, dan berkali-kali naik haji, tapi sikap dan perilaku mereka berada dalam pusaran kehidupan yang nyaris tanpa nilai dan norma. Setelah solat, mereka tetap melakukan perbutan keji dan jahat. Padahal salah satu tujuan melakukan solat untuk menghindarkan diri dari kekejian dan munkarat. Demikian pula, selepas puasa mereka tetap tidak mau mengendalikan diri dari aktivitas yang merugikan orang lain, dan masyarakat. Hal ini bertentangan dengan tujuan puasa sebagai proses pengendalian hawa nafsu.  Setali tiga uang, sepulang dari haji, mereka masih terlibat dalam kesombongan, sikap primordial, konflik, permusuhan, dan sejenisnya. Padahal salah satu makna utama berhaji adalah membangun kesetaraan menuju persaudaraan universal. continue reading…

*Pernah dimuat di Jurnal Shofia IAIN Sunan Ampel

Era refomasi yang dimasuki bangsa Indonesia sejak tahun 1999 abad yang lalu berjalan tidak sebagaimana yang diimpikan. Terlepas dari beberapa fenomena yang mengarah kepada perbaikan, berbagai persoalan mencuat ke permukaan. Dalam kasus-kasus tertentu sejumlah persoalan telah melemparkan bangsa ke dalam lubang nestapa yang menerjang secara telak eksistensi mereka sebagai suatu bangsa yang demokratis dan beragama. Realitas yang ada di hadapan kita adalah realitas yang masih cukup buram yang merepresentasikan suatu kehidupan yang mulai tercerabut dari akar-akar nilai-nilai moralitas yang sejatinya sangat diperlukan dalam pengembangan kesejahteraan kehidupan umat manusia continue reading…

Oleh Abd A’la

Dimuat dalam Rubrik Lentera, Surabaya Post, Senin 14 Maret 2011

Dewasa ini banyak manusia secara individu atau berkelompok demikian mudahnya melakukan kekerasan terhadap manusia atau kelompok lain. Hanya karena persoalan “sepele”, atau sekadar berbeda pandangan, mereka bertindak barbar dengan melakukan penyiksaan fisik hingga penghilangan nyawa terhadap orang lain. Melampaui hukum yang ada, mereka main hakim sendiri. Melampui nilai-nilai agama, mereka menginjak-injak tatanan kehidupan continue reading…

Oleh Abd A`la

Gejala yang tampak menunjukkan bahwa reformasi yang berjalan saat ini telah kehilangan rohnya yang otentik. Arti dan substansi reformasi telah direduksi sekadar menjadi sarana untuk melakukan pembenaran terhadap tindakan-tindakan politik atau sosial yang sejatinya bertentangan –atau minimal –tidak mencerminkan nilai-nilai reformasi. continue reading…

Jumlah anak balita yang mengalami gizi buruk masih terjadi meluas di berbagai daerah. Misalnya, di Bondowoso dan di Bojonegoro. Bahkan di Bojonegoro ada desa yang penduduknya banyak yang memiliki keterbelakangan mental. Realitas ini merupakan ironi yang menyindir dengan keras reformasi yang telah berjalan selama ini. Reformasi sebagai proses demokrasi dalam berbagai aspek kehidupan bangsa seharusnya mampu mendeteksi secara dini alarm-alarm problem kemanusiaan semacam itu. Pengembangan demokrasi meniscayakan para wakil-wakil rakyat di berbagai tingkatannya untuk bisa menangkap realitas kehidupan yang sedang berkembang di masyarakat luas. Mereka dituntut dapat melihat fenomena persoalan-persoalan yang melilit rakyat. continue reading…

Powered by WordPress Web Design by SRS Solutions © 2012 abdala Design by SRS Solutions