Abd A’la
IAIN Sunan Ampel (selanjutnya disebut IAIN) bukan hanya merupakan kekayaan (dalam berbagai arti dan aspek) masyarakat kampus IAIN semata, namun juga masyarakat Jawa Timur, bahkan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Sumbangsih IAIN kepada masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia sama sekali tidak bisa dinafikan. Betapa banyak alumni IAIN yang tersebar di berbagai daerah. Mereka pada umumnya dari keluarga menengah ke bawah yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk melanjutkan ke perguruan tingg yang relatif berkualitas selain ke IAIN. Setelah lulus, mereka umumnya menjadi wirausahawan yang tidak tergantung kepada uluran tangan pemerintah. Mereka mampu mengembangkan usaha sendiri dalam berbagai bidang. Sejalan dengan itu, IAIN telah membuktikan kiprahnya dalam melakukan pemberdayaan dan penguatan masyarakat, terutama yang berada di akar rumput.
Lebih dari itu, IAIN –diakui atau tidak –banyak berperan dalam pengembangan dan penyebar luasan keberagamaan yang toleran, moderat, dan menunjung tinggi keberadaan NKRI dengan segala keragaman yang ada di dalamnya. IAIN secara kelembagaan yang didukung penuh oleh civitas akademika dan tenaga kependidikan dari saat ke saat terus menyebarluaskan –meminjam konsep Gus Dur –Islam pribumi; Islam yang meyantuni lokalitas, tapi sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai otentik dan universal agama Islam.
Kiprah yang telah dilakukan IAIN tersebut bukan hanya perlu dilestarikan dan terus dilanjutkan, tapi yang lebih penting mutlak harus dikembangkan. Masyarakat kampus secara khusus, dan masyarakat Jawa Timur serta bangsa Indonesia secara umum niscaya untuk merawat dan membesarkan IAIN.
Karena itu, tidak ada seorang pun yang berhak mengkerdilkan IAIN. Tidak ada seorang pun yang boleh merusak dengan cara apa pun rencana besar IAIN ke depan. Kepentingan pribadi, hal-hal yang pragmatis dan sejenisnya tidak boleh lagi memengaruhi, apalagi menentukan program IAIN ke depan.
Terkait dengan itu, para pejabat, dosen, dan tenaga kependidikan perlu melakukan muhasabatun-nafs, melakukan refleksi, meluruskan kembali niat mereka di IAIN. Mereka hendaknya menyadari, tujuan utama bekerja di IAIN untuk mengabdi. Jabatan dan sejenisnya adalah amanah yang seutuhnya berada dalam bingkai kinerja, waktu, dan sebagainya. Karena itu, mereka yang sedang menjabat jangan sampai beranggapan bahwa kursi jabatan yang sedang mereka duduki adalah milik mereka. Kapan pun diminta untuk menyerahkan amanah, mereka harus siap. Sedang mereka yang tidak menjabat diharapkan untuk tidak mengejar-ngejar jabatan. Sebagai manusia yang dibesarkan di lembaga pendidikan Islam, kita semua tahu bahwa nggandoli jabatan, meminta jabatan, atau mengejar-ngejar jabatan bertentangan secara diametral dengan ajaran dan nilai Islam. Kita berada di IAIN mutlak mendasarkan diri pada nilai-nilai al-akhlak al-karimah dan ajaran Islam universal.
Dalam bingkai nilai-nilai Islam itu pula, mahasiswa IAIN harus berada. Kewajiban mereka adalah belajar dan mempersiapkan diri menjadi kaum intelektual muslim. Dengan demikian, mereka dituntut untuk menghindari dari segala aktifitas yang tidak sejalan dengan nilai-nilai itu.
Namun semua ini tergantung kepada kesiapan kita untuk melaukan dialog dengan nurani. Atau kita hanya menjadi muslim pada tataran permukaan. Karena ajaran dan nilai-nilai luhur Islam tidak mampu menyadarkan kita. Nauzubillah©

Comments
Leave a comment Trackback