Abd A’la

Hingga saat ini sebagian besar umat manusia di berbagai belahan dunia merupakan penganut salah satu dari agama-agama besar dan lokal, seperti Hinduisme, Budhisme, Judaisme, Kristianitas, Islam dan lainnya. Mereka berjumlah sekitar 84 persen dari keseluruhan masyarakat dunia. Hanya sekitar 16 persen masyarakat yang tidak beragama.

Rinciannya, Kristianitas dengan segala aliran dan percabangannya dianut oleh 33 persen umat manusia. Agama ini menduduki peringkat pertama sebagai agama dengan penganut terbanyak. Di peringkat kedua ditempati agama Islam dengan jumlah penganut antara 21 hingga 23 persen dari masyarakat dunia. Penganut agama ketiga terbesar adalah umat Hindu yang dipeluk sekitar 14 persen masyarakat. Urutan berikutnya adalah agama Buddha yang memiliki penganut sekitar 7,3 hingga 10,3 persen dari penduduk dunia. Selanjutnya agama tradisional Cina dan kepercayaan-kepercayaan tradisional masyarakat Afrika yang masing-masing memiliki jumlah persentase sebanyak 6 persen. Agama Sikh dianut oleh sekitar  0,36 persen masyarakat. Yahudi menempati peringkat paling rendah dari daftar agama-agama dunia menurut jumlah pengikutnya. Mereka sekitar 0,22 persen dari jumlah penduduk dunia.

Terlepas dari akurasi atau tidak, persentase pemeluk agama yang begitu besar itu menggambarkan bahwa agama pada era kontemporer ini masih memiliki nilai penting dan menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Agama tetap hadir membayang-bayangi kehidupan modern dengan segala kompleksitas yang dibawanya.

Berangkat dari keterikatan umat manusia dengan agama itu, persoalan urgen yang perlu diangkat adalah membincang dan mendiskusikan posisi dan peran agama dalam kehidupan, khususnya saat ini ke depan. Agama-agama besar –Hinduisme, Budhisme, Judaisme, Kristianitas, dan Islam –dan lainnya perlu dilihat dan “dibaca kembali”. Misalnya, ajaran Hinduisme tentang etika Atman dan hukum Karma. Demikian pula tentang Empat Kebenaran Mulia, Jalan Berjalur Delapan, dan Lima Aturan yang ada dalam Budhisme, etika kehidupan yang lebih baik dalam Yudaisme, ajaran tentang Kasih dalam Kristianitas, dan Rahmat dalam Islam.

Agama-Agama; Menyandingkan, Bukan Mempertandingkan

Berdasarkan ajaran agama-agama itu, kita –setiap umat beragama –dituntut untuk mendialogkan ajaran tentang kebaikan yang terdapat pada agama-agama kita masing-masing. Etika dasar dalam Hinduisme, misalnya sebagimana dijelaskan Sri Swami Sivananda (1999) adalah Atman (Self); suatu ajaran tentang satu yang meliputi segala yang ada. Ia adalah jiwa segala sesuatu yang paling prinsip yang merupakan kesadaran biasa dan murni. Berdasar pada Atman ini, jika kita melukai orang lain, berarti melukai diri sendiri. Jika kita melukai makhluk lain sama artinya dengan melukai diri sendiri. Sebab dunia hanyalah Diri kita sendiri. Sejalan dengan itu, Buddhisme (meminjam ungkapan Peter D Santina) mengajarkan tentang Jalan Berjalur Delapan, yang salah satunya adalah keharusan berbuat baik, seperti menghargai kehidupan, harta, dan hubungan antar sesama. Dalam Yudaisme kebaikan serupa itu juga sangat ditekankan. Menurut Alan Samual JP (2005), dalam Yudaisme ada ajaran tentang Tzedek yang mengharuskan umat Yahudi untuk melakukan dan menegakkan keadilan. Selain itu, Yudaisme memiliki etika Chesed yang menuntut umat Yahudi untuk saling mengasihi dengan sesama, dan etika-moral Tikkun Olam mengenai keharusan umat Yahudi membangun kehidupan dunia yang lebih baik, yang lebih mencerminkan kasih sayang. Sedang dalam Kristianitas, kasih merupakan ajaran pokok. Sebagaimana disebutkan dalam Matius, Yesus meminta umatnya untuk mencintai Tuhan dan orang lain. Islam pun sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran adalah hadir sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Semua ajaran yang menekankan pada kebaikan itu perlu didialogkan satu dengan yang lain sebagai modal utama dalam mengembangkan kehidupan yang lebih baik dari berbagai dimensinya. Pada tataran ini kerjasama antar umat beragama mutlak dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Kerjasama adalah keniscayaan karena umat manusia mustahil dapat menyelesaikan persoalan kehidupan yang demikian kompleks ini jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri, apalagi antara yang satu dan lain saling menohok. Betapa pun kuatnya suatu bangsa, betapa pun besarnya jumlah suatu umat beragama, masing-masing tidak mungkin secara sendirian dapat menuntaskan problem yang mereka hadapi, apalagi problem dunia.

Melalui rekonstruksi keberagamaan dan kerjasama itu, kita yakin bahwa kita masih memiliki masa depan. Sampai derajat tertentu, apa yang dinyatakan Caputo (2003), bahwa makna religius kehidupan sangat terkait dengan memiliki masa depan adalah benar. Kita beragama pada hakikatnya untuk meraih masa depan yang lebih baik, menyenangkan, dan menyejukkan. Melalui agama kita menggapai kehidupan yang paripurna dalam berbagai aspeknya. Entah masa depan itu adalah yang dekat maupun yang jauh, semuanya harus lebih menjanjikan.

Semua itu –masih menurut Caputo –hanya dapat dicapai melalui cinta dan kebersamaan. Karena itu, agama hanyalah bagi para pecinta. Orang yang egois, kepala batu, yang tidak memiliki cinta, yang hanya memikirkan dirinya sendiri sejatinya bukan orang beragama.

Konretnya, cinta adalah dua atau lebih unsur yang berbeda yang saling menyapa, bergandengan dan bahu-membahu. Cinta adalah siang dan malam, langit dan bumi, laut dan gunung yang semuanya menciptakan kehidupan ini indah, sejuk dan damai. Agama seutuhnya berada pada altar tersebut. Agama adalah untuk melestarikan kehidupan, dan mengembangkan kebaikan. Semua ini tidak akan pernah tercapai tanpa cinta dan kebersamaan yang dilabuhkan melalui kerjasama yang kokoh antar umat beragama©.