
oleh:
Dr. Warsiman, M.Pd.1
- 1. Pendahuluan
Jumlah penutur bahasa Indonesia jika diukur dari jumlah penduduk Indonesia berada pada urutan keempat negara berpenduduk besar di dunia. Hal ini tentu merupakan kekuatan besar dalam penempatan posisi bahasa Indonesia di antara bahasa-bahasa lain. Sugono (2003:50) mengemukakan bahwa, jumlah penduduk yang besar harus dipandang sebagai potensi dalam meraih peran pada tatanan kehidupan global, dan jumlah penduduk besar tidak dipandang sebagai potensi sumber daya manusia kalau mutunya belum mampu bersaing secara global, tetapi dipandang sebagai pendukung keanekaragaman budaya dan sebagai penutur bahasa besar dunia urutan keempat setelah Cina, Inggris, dan Spanyol. Dengan demikian, faktor politik, ekonomi, sosial budaya, dan mutu sumber daya manusia lebih memainkan peran dalam penentuan posisi suatu bangsa dalam tatanan kehidupan global.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahasa Indonesia berfungsi, antara lain, sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan, bahasa resmi perhubungan pada tingkat nasional, dan bahasa media massa. Berbagai hal tersebut telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang penting dalam jajaran bahasa-bahasa di dunia. Kenyataan itu telah mendorong bangsa-bangsa lain mempelajari bahasa Indonesia.
Dengan perkembangan teknologi, konteks pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (selanjutnya disebut BIPA) akan merambah ke berbagai hal. Hal dimaksud terkait dengan ketersediaan dukungan lingkungan pembelajaran yang akan memberikan masukan/ bahan yang akan dipelajari, guru dengan kemahiran berbahasa Indonesia yang memadai, siswa dengan segala cirinya, dan metode mengajar yang keefektifannya akan sangat bergantung pada semua faktor tadi. Semuanya akan berinteraksi dalam membuat kegiatan belajar-mengajar BIPA menjadi betul-betul berhasil-guna.
Pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing sudah dimulai di negara-negara lain di dunia. Bahkan, Bahasa Indonesia saat ini sedang diajarkan di sejumlah negara. Ini berguna untuk melihat ke belakang dan melihat apa yang sedang kita lakukan dalam konteks historis dan perspektif secara global.
Sayangnya, informasi tentang perkembangan pengajaran BIPA yang muncul tidak mudah ditemukan dalam jurnal-jurnal akademik dengan topik pengajaran bahasa Indonesia sebagai historis atau fenomena dunia.
2. Pengajaran Bahasa Indonesia di Seluruh Dunia
Menurut Alwi (1995), bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing diajarkan setidaknya di 29 negara. Ke-29 negara tersebut antara lain Australia, Austria, Canada, China, Cekoslovakia, Denmark, Mesir, Perancis, Jerman, India, Itali, Jepang, Malaysia, Belanda, New Zealand, Norwegia, Papua Nugini, Rusia, Saudi Arabia, Singapur, Korea Selatan, Suriname, Swedia, Switzerland, Thailand, Filipina, Inggris, Amerika, Vatikan, Vietnam. Thailand dapat dimasukkan ke dalam daftar ini (Nimmanupap, 1998). Suvei ini terbatas pada negara-negara yang aktivitasnya berhubungan dengan pentingnya bahasa Indonesia dari perspektif historis dan global.
2.1 Perancis
Menurut Chambert-Loir (1998), Perancis adalah negara pertama yang mengajarkan bahasa Melayu sebagai bahasa asing. Bahasa Melayu diajarkan sejak tahun 1841, bersama-sama dengan bahasa Arab, Persia dan Turki, di Ecole National des Langues et Civilisations Orientales Vivantes (ENLOV), yang akhirnya menjadi Institut Nasional des Langues et Civilisations Orientales (INALCO). Keempat bahasa ini adalah bahasa Islam yang penting di abad ke-18. Seorang sarjana Perancis, Pierre Favre, menerbitkan buku Tata Bahasa Java (Tata Bahasa Jawa) pada tahun 1866; Kamus Jawa-Perancis pada tahun 1870; Kamus Melayu-Perancis pada tahun 1875; Tata Bahasa Melayu pada tahun 1876; dan Kamus Perancis-Melayu pada tahun 1880.
Kamus Melayu-Perancis yang dibuat oleh Favre disebut layak karena keunikannya sebagai artefak ilmu pengetahuan pada bahasa Melayu. Kamus ini terdiri dari 1900 halaman, memberikan sumber kata-kata pinjaman atau turunan dari bahasa lain dan tulisan dalam bahasa Arab, Sansekerta dan Cina. Istilah-istilah keluarga didaftar dalam tulisan dan bahasa Jawa, Batak, Makasar dan Tagalog.
Chambert-Loir mengemukakan bahwa dari tahun 1933 pengajaran bahasa Melayu di Perancis mengalami kemunduran. Kemungkinan karena Perancis lebih fokus pada Indo-Cina. Dari tahun 1958, penutur asli dipekerjakan sebagai asisten untuk memperbaiki lafal/ ucapan para mahasiswa. Tahun 1970-an Pierre Labrousse dan Farida Soemargono membuat materi-materi pengajaran yang baru. Saat ini kursus terdiri atas dua tingkatan. Tingkat pertama 3 tahun, dan pelajar mendapat gelar diploma. Tingkat kedua, pelajar memperoleh gelar sarjana atau master. Jumlah siswa di tahun pertama kira-kira 40 orang, di tahun kedua 25 orang, di tahun ketiga 14 orang, dan di tingkat kedua hanya sekitar enam orang. Dibimbing oleh empat dosen, yaitu satu orang dosen dari Perancis dan tiga orang penutur asli.
2.2 Belanda
Menurut Steinhauer (1998), hubungan antara rezim kolonial Belanda dan menyebarnya bahasa Melayu di Hindia Timur Belanda sangat dekat. Di pertengahan kedua abad ke-19 kolonisasi di dunia melalui kekuatan orang-orang Eropa meningkat dan semakin intensif. Sejalan dengan kecenderungan ini, aturan kolonial Belanda di Indonesia menjadi lebih intensif, lebih langsung dan lebih variatif, tetapi Belanda tidak dapat melanjutkan program pemerintahan mereka tanpa melibatkan masyarakat Indonesia sebagai kekuatan kerja. Jadi, dari pertengahan abad ke-19 pendidikan masyarakat pribumi menjadi bagian dari kegiatan/ program pemerintah kolonial. Tentu saja yang diajarkan adalah apa yang sesuai dengan kekuatan kolonial. Dua pandangan bersaing tentang apakah orang-orang Indonesia harus belajar bahasa Belanda, tetapi yang menang adalah pandangan yang berlawanan. Hal ini dipertimbangkan jika orang Indonesia memperoleh pengetahuan ‘modern’ melalui pembelajaran bahasa Belanda, mereka akan terganggu. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang memang dari awal sudah menjadi bahasa komunikasi utama antara orang Belanda dengan masyarakat lokal, dipilih sebagai bahasa pengantar di institusi pendidikan. Kebijakan ini pun merupakan kontribusi penerimaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di kemudian hari.
Oleh karena pentingnya bahasa Melayu untuk mengimplementasikan aturan kolonial, para pegawai Belanda dan tentara-tentara yang dikirim ke Indonesia diwajibkan untuk mempelajari bahasa Melayu. Hasil dari kebijakan kebahasaan ini beberapa pelajaran bahasa penting muncul sebelum Perang Dunia I, oleh De Hollander (1845), Gerth van Wijk (1889), Spat (1900-1901), Tendeloo (1901) dan Van Ophuijsen (1910).
Pengajaran bahasa Indonesia sebagai bidang studi di tingkat ketiga di Belanda menjadi pusat perhatian Universitas Leiden. Namun, ada beberapa tipe kursus bahasa Indonesia di Belanda. Meskipun secara nyata tidak ada stasistik yang tersedia untuk membuktikan kebenaran meluasnya program-program ini, tetapi Steinhauer (1998) menawarkan ikhtisar dari sifat dan tujuan dari kursus ini, berdasarkan pengamatannya. Pertama, pembelajaran bahasa Indonesia di Belanda memberikan pola khusus karena sifat dari pembelajarnya. Dibandingkan dengan negara-negara lain, proporsi orang Belanda yang berhubungan langsung atau tertarik pada Indonesia lebih besar. Steinhauer mengidentifikasikan tujuh tipe utama pembelajar dari Belanda: 1) keturunan/ anak cucu penjajah; 2) keturunan/ anak cucu orang Indonesia; 3) orang-orang yang karena alasan profesionalnya untuk mempelajari bahasa Indonesia; 4) peneliti;5) turis; 6) pendidikan masyarakat; dan 7) mahasiswa Universitas.
Pusat-pusat yang paling penting untuk kursus-kursus akulturasi, yang memenuhi kebutuhan sebagian besar orang-orang seperti diplomat, pengusaha dengan alasan profesionalnya untuk mempelajari bahasa Indonesia adalah Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) (Institut Kerajaan untuk daerah Tropis) di Amsterdam dan The Inter Consultancy Bureau (ICB) di Leiden, yang merupakan bagian dari Universitas Leiden. ICB menawarkan kursus yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar baik dari lembaga maupun individual, dan menggunakan materi-materi pengajaran yang telah berkembang.
The Instituut voor Indonesische Cursussen (IIC) (Institut untuk Kursus Bahasa Indonesia) di Leiden menawarkan kursus-kursus tidak hanya di Leiden, tetapi juga di tempat lain di Belanda untuk partisipan yang nonprofesional. IIC juga memiliki toko buku khusus yang berhubungan dengan Indonesia dan publikasi bahasa Indonesia. Sejalan dengan hal itu, IIC pun telah mengembangkan materi-materi pengajaran, buku kursus dalam dua volume, Selamat Datang (Jung et al. 1995-96), yang menekankan pada situasi keseharian dan ujaran, dengan tata bahasa dasar. Selamat Datang adalah buku kursus yang sebagian besar digunakan oleh Volksuniversiteit (Universitas Terbuka), yang ditawarkan di beberapa tempat.
Pendidikan bahasa Indonesia jarak jauh ditawarkan di Leidse Onderwijs Instellingen (LOI) (Institut Pendidikan Leiden). Program ini lebih menantang dan lebih fokus pada tata bahasa. Pendidikan jarak jauh yang lebih populer dikembangkan oleh para lulusan program bahasa Indonesia Universitas Leiden yang bekerjasama dengan para lulusan program bahasa Belanda Universitas Indonesia. Program ini ditampilkan melalui televisi nasional, dan memberikan kestabilan bahasa, unsur-unsur budaya dan gaya hidup. Pada tahun 1998 program ini diputar kembali untuk ketiga kalinya karena banyaknya permintaan.
Program bahasa warisan juga diberikan untuk anak-anak para tentara Maluku yang mendukung Belanda dan telah bermigrasi ke Belanda pada tahun 1950 setelah Indonesia merdeka. Hal ini berdasarkan cerita rakyat, tetapi cenderung yang diberikan adalah bahasa Melayu atau dialek Ambon daripada bahasa Indonesia modern.
Selain program yang dijelaskan tersebut, bahasa Indonesia pun diberikan di Universitas Leiden pada Sekolah Asia Tenggara dan Bahasa-bahasa Oceania dan Budaya. Meskipun bahasa Indonesia menjadi fokus penting untuk dipelajari di Leiden, bahasa Jawa dipandang sama pentingnya karena banyaknya penutur bahasa Jawa di sana. Bahasa Jawa memiliki sejarah panjang sebagai bahasa tertulis dan kesusastraan yang berusia sekitar sepuluh abad. Pandangannya adalah karena budaya Jawa mengungguli, maka tidak ada seorang pun dapat memahami Indonesia tanpa mengetahui Jawa.
Selain fokus pada bahasa dan budaya, di beberapa tahun terakhir ini program yang ada di Leiden telah melebar ke program yang disebut Indonesiologie. Ada dua program yang ditawarkan yaitu Indonesiologie, pelajar dapat memilih untuk mengkhususkan pada manajemen, dan program lain bahasa Indonesia serta budaya, yang menggunakan versi sekarang program berbasis gaya literatur lama (old-style literature-based program). Masa studi para siswa yang mengikuti kedua program tersebut adalah empat tahun. Jumlah siswa keseluruhan dari kedua program tersebut setiap tahun adalah antara 15 dan 25, dan yang sampai lulus hanya setengahnya.
Siswa-siswa lain dari bidang studi yang berbeda dan dari universitas-universitas lain di Belanda dapat juga mempelajari bahasa Indonesia sebagai bidang studi pilihan. Jumlah siswa di semester pertama sekitar 40 sampai dengan 50 orang siswa. Namun, yang bertahan sampai akhir semester kedua hanya sekitar 20 orang siswa. Berdasarkan pendapat Steinhauer itu maka kekurangan materi pengajaran yang cocok untuk tingkat ketiga adalah masalah utama.
2.1.3 Jepang
Di Jepang, bahasa Melayu pertama kali diajarkan di Tokyo Gaikokugo Daigaku dari tahun 1908. Alwi (1995) mengemukakan bahwa Jepang sebenarnya merupakan negara kedua yang mengajarkan bahasa Indonesia (yang berlawanan dengan bahasa Melayu), yang dimulai di Tenri Daigaku (Universitas Tenri) pada tahun 1925. Program bahasa Indonesia saat ini ditawarkan di lima universitas di Jepang: Tokyo Gaikokugo Daigaku, Tenri Daigaku, Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka University of Foreign Studies), Kyoto Sangyo Daigaku (Kyoto Sango University) and Setsunan Daigaku (Setsunan University).
Jumlah siswa yang mengambil program bahasa Indonesia dari keseluruhan universitas kira-kira 600 orang, dan bahasa Indonesia dapat dipelajari di tingkat master di Universitas Tokyo dan Osaka. Di 20 universitas lain bidang studi bahasa Indonesia ditawarkan sebagai bahasa pilihan atau bahasa kedua. Jumlah mahasiswa yang tercatat mengikuti program ini lebih dari 2000 mahasiswa. Di Jepang bahasa Indonesia tidak diajarkan di sekolah.
Ketertarikan Jepang pada Asia Tenggara terutama Indonesia, telah meningkat akhir-akhir ini, dengan banyak muncul kursus-kursus yang ditawarkan di universitas-universitas, sekolah-sekolah bahasa dan institusi-institusi lain. Ada sekitar 20 tempat dengan jumlah siswa 600 orang dari semua umur (Sato, 1995).
Jepang cukup produktif dalam menerbitkan buku-buku tentang bahasa Indonesia dan terjemahan literatur Indonesia. Berdasarkan penelitian Yamaguchi Masao, sarjana Universitas Setsunan, buku-buku tertuanya, kamus Melayu-Jepang dan buku dialog-dialog dalam bahasa Melayu dengan terjemahan bahasa Jepang, diterbitkan pada tahun 1908 dan tahun 1910. Di akhir perang dunia ke-2 telah diterbitkan lebih dari 100 buah buku, termasuk tata bahasa, para pembaca, teks-teks bahasa, dialog, teks linguistik, kamus-kamus, dan lain-lain. Sejak saat itu banyak buku-buku lain yang juga diterbitkan. Shigeru tahun 1998 mendaftarkan 20 teks-teks bahasa. Teks linguistik, dan kamus-kamus yang ditebitkan antara tahun 1974 dan tahun 1988. Sekitar 30 karya sastra telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang pada tahun 1988, termasuk puisi, novel, dan cerita-cerita pendek. Buku-buku dan jurnal-jurnal tentang Indonesia yang tak terhitung jumlahnya telah ditulis oleh para peneliti Jepang. Di Jepang ada Asosiasi Nasional Indonesia yang disebut Nihon Indoneshia Gakkai, yang mengadakan konferensi tahunan. Asosiasi mahasiswa bahasa dan budaya Indonesia di universitas juga aktif.
Motivasi orang-orang Jepang yang mempelajari bahasa Indonesia bervariasi, tetapi dari keseluruhan alasan dapat diambil simpulan bahwa mereka ingin dapat berkomunikasi dengan orang Indonesia, baik untuk tujuan bisnis atau hubungan pribadi. Di antara para mahasiswa universitas dan para sarjana yang belajar bahasa Indonesia ada yang lebih tertarik ke arah program sarjana dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ketertarikan orang Jepang dalam mempelajari bahasa Indonesia berasal dari persepsi keterlibatan regional dan hasrat untuk terlibat dalam perkembangan di masa depan, sebagai bagian dari mahasiswa.
Sato (1995) menyatakan bahwa ada 13 kamus dan 18 buku kursus yang digunakan di universitas-universitas Jepang, termasuk penerbitan buku-buku bahasa Inggris yang patut dijadikan acuan (Sarumpaet dan Hendrata 1970); Almatsier 1974; Dardjowidjojo 1982; Wolff dan Oetomo (1987), buku-buku kursus berbahasa lebih baik (khususnya untuk tingkat lanjutan dan tingkat mahir), secara mendesak dibutuhkan lebih banyak lagi kamus yang dibantu audiovisual dan lebih mutakhir. Masalah berikutnya adalah kurangnya akses menuju publikasi bahasa Indonesia. (Rupanya internet telah meringankan kesulitan yang terakhir). Variasi gaya bahasa Indonesia, banyaknya kata-kata baru, idiom dan singkatan, dan ketidaksistematisan tata bahasa Indonesia merupakan sumber frustasi orang-orang Jepang yang belajar bahasa Indonesia. Jadi, dibutuhkan lebih banyak penutur asli yang ahli untuk membantu pengajaran, tetapi sayang sangat sedikit orang-orang tersebut yang ada di Jepang.
2.1.4 Amerika Serikat
Amerika Serikat adalah negara penutur bahasa Inggris pertama yang mengajarkan bahasa Indonesia, kendati, berdasarkan Soemarmo (1988) tidak ada laporan tertulis sejarah pengajaran bahasa Indonesia di Amerika.
Menurut Collins (1998), di tahun 1805 pengalaman David Woodard dipublikasikan, termasuk kosa kata bahasa Melayu. David Woodard adalah seorang warga Boston yang kapalnya diserang dan ditahan selama dua tahun di Donggala, Sulawesi Tengah. Kamusnya memperlihatkan penggunaan bahasa Melayu di daerah pesisir Sulawesi, di luar pengaruh kolonial pada saat itu.
Amerika benar-benar tertarik pada bahasa Melayu dimulai pada saat ekspansi kekuasaan Amerika di Pasifik pada akhir abad 19. Studi etimologi dari Charles Payson Gurley Scott The Malayan Words in English dipublikasikan dalam Journal of the American Oriental Society pada tahun 1886 dan 1887, merupakan contoh penelitian ilmiah yang berkualitas. Pada saat yang sama Universitas Cornell menawarkan bahasa Melayu sebagai bidang studi, tetapi setelah itu hilang (Collins, 1998)
Ketertarikan Amerika dalam mempelajari bahasa Melayu tidak dimunculkan kembali sampai PD II. Tahun 1943, Departemen Perang Amerika menerbitkan; A Guide to Spoken Language. Di Amerika pengajaran bahasa Melayu dipelopori oleh Professor Isidore Dyen pada tahun 1948 yakni di Yale University Amerika Serikat. Namun, pembelajaran bahasa Indonesia secara akademik dapat dikatakan benar-benar dimulai pada tahun 1952 ketika Professor John Echols mendirikan program bahasa Indonesia sebagai bagian dari Southeast Asian Studies program (SEAP) di Cornell University.
Selain Cornell University dan Yale University, bahasa Indonesia juga diajarkan di beberapa universitas Arizona State, California (Berkeley), Hawaii, Michigan, Northern Illinois, Ohio, Oregon, Washington and Wisconsin.
Soemarmo (1988) menyatakan dari hasil survei mengenai guru-guru dan para pelajar bahasa Indonesia, ditemukan data bahwa di Amerika jumlah pelajar bahasa Indonesia dalam satu tahun tidak lebih dari 100 orang, dan dari dekade sebelumnya perubahannya hanya sedikit. Selanjutnya Soemarmo menemukan bahwa kebanyakan guru-guru di Amerika menggunakan materi pengajaran Wolff (Wolff, 1984 dan 1986), yang berdasarkan metodologi audiolingual, karena tidak tersedianya buku teks berdasarkan metodologi yang lebih baru. Materi pengajaran Wolff, yang muncul dari tahun 1975 (Wolff, 1975) sangat mempengaruhi pengajaran bahasa Indonesia di Amerika Serikat dan tempat lain. Materi ini berdasarkan metodologi audiolingual, tetapi juga memiliki catatan-catatan latihan yang berdasarkan tata bahasa dan kalimat yang luas dan juga bagian membaca. Sebelum ke materi TIFL, materi Wolff paling lengkap untuk belajar bahasa Indonesia.
Masih menurut Soemarmo(1988), tujuan pengajaran bahasa Indonesia di Amerika Serikat sangat difokuskan pada kemahiran berbicara dan membaca. Ia melaporkan bahwa tingkat prestasi para mahasiswa program bahasa Indonesia di Amerika Serikat sangat memuaskan. Setelah sembilan bulan belajar, para pembelajar dapat menggunakan bahasa Indonesia. Bagaimanapun juga, ia mengungkapkan harapannya agar kemahirannya lebih meningkat, khususnya para mahasiswa tingkat mahir. Ia menekankan untuk perkembangan materi pengajaran bahasa Indonesia yang baru mendekati materi bahasa Inggris ESL.
Mackie (1991) melaporkan bahwa di Amerika Serikat kesempatan kursus bahasa untuk prasarjana relatif terbatas (tidak seperti Australia), tetapi permintaan di tingkat sarjana cukup besar. Cornell University dan Wiscounsin University memiliki guru-guru bahasa yang pekerjaannya terlampau banyak, tetapi sebagian ada yang kekuatannya sebanding. Bagaimana pun juga, kumpulan sumber yang dihasilkan dalam kursus-kursus tahunan Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) telah jauh lebih maju dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendesak, dan uji coba berikutnya yang sejalan dengan hal ini mungkin lebih dari sekedar kursus-kursus pengenalan di jurusan-jurusan bahasa di universitas pada umumnya (contohnya konsorsium guru-guru Indonesia /Consortium of Teachers of Indonesia (COTI) ). Artinya hanya sedikit sekali prasarjana Amerika yang mendapat kesempatan mengambil kursus bahasa dan sastra negara-negara Asia Tenggara.
Selanjutnya, penekanan pada pelajaran tingkat sarjana di AS sangat mempengaruhi keseluruhan tingkat pengajaran dan penelitian di negara-negara Asia, menuju ke orientasi yang lebih ahli. Orientasi ahli ini adalah masalah untuk orang-orang Asia Tenggara di AS karena mereka sering bekerja di beberapa universitas yang tidak memiliki program belajar, dan mereka diharapkan mempublikasikan jurnal-jurnal bidang studi utama pada koleganya. The ‘hegemonic grip’ pada bidang studi di AS lebih besar daripada di Eropa dan di Jepang (Mackie, 1991).
Collins (1998) menyatakan bahwa baru-baru ini perubahan fokus studi bahasa Indonesia di AS dari ekonomi, kebijakan kolonial dan perang menuju ke linguistik tradisional (penelitian linguistik komparasi/ historis, studi sintaksis dan leksikografi); sosiolinguistik (multilingualisme di Indonesia dan sejarah sosial bahasa Indonesia); dan pedagogi (proyek CALL, proyek materi membaca yang otentik, proyek kemahiran mendengar materi video yang otentik dan proyek instruksi berbasis tugas). Dia mengeluh kekurangan dana untuk linguistik murni dan menganggap ini berasal dari keinginan pemerintah untuk menbiayai proyek-proyek dalam memperbaiki pedagogi untuk alasan perdagangan; kemampuan berbicara bahasa Indonesia dilihat sebagai komoditi perdagangan yang akan membawa keuntungan untuk warga Amerika melalui pengasahan usaha Amerika dalam persaingan sebagai kekuatan ekonomi global. Kesan Indonesia sebagai ‘mini dragon’ Asia Tenggara merupakan hal yang mendukung penelitian bahasa Indonesia, dan hal itu terbatas pada bidang pedagogi.
2.1.5 Cina
Hubungan antara Cina dan Indonesia kembali ke ratusan tahun yang lalu. Pada tahun 1061, para arkeolog Indonesia mengungkapkan mata uang Cina dari dinasti Han, yang ditemukan pada tahun 261 SM. Dalam catatan sejarah Dinasti Han, tercatat bahwa kapal dibuat dan mengadakan perjalanan ke luar negeri. Di sini tercatat bahwa tanggal mata uang ini dari periode 140-87 SM, dan hubungan Indonesia-Cina terjalin kembali pada periode itu.
Pada masa dinasti Tang (abad ke 7 sampai abad ke 10) secara resmi hubungan antara Cina dan Indonesia sudah dekat. Seorang rahib Budha bernama Yi Jing (I-Tsing) menghabiskan waktunya selama beberapa dekade di Sumatra selama periode Sriwijaya untuk mempelajari bahasa dan agama. Dalam perjalanannya menuju India pada tahun 671, Yi Jing selama 6 bulan di Sriwijaya mempelajari bahasa Sansekerta untuk persiapan mempelajari Budha di India. Setelah mempelajari Budha di India, Yi Jing kembali ke Sriwijaya pada tahun 685-686, tinggal lagi selama 12 tahun. Pada tahun 689 dia pergi ke Cina dan membawa kembali 4 rahib untuk belajar bahasa Sanskerta dan teknik terjemahan. Dua rahib memilih tinggal di Sriwijaya. Dan dua lagi kembali ke Cina dengan Yo Jing pada tahun 695 dan menjadi satu dari keempat penerjemah penting dan penyebar ilmu Budha.
Yi Jing menyebutkan ‘bahasa Kunyun’ dalam bukunya, dan mencatat bahwa seorang pendeta bernama Yun Qi telah menghabiskan waktu beberapa dekade di Sriwijaya dan sudah menguasainya. Dalam buku itu dituliskan bahwa ‘Kunyun’ mengacu pada bahasa yang ditemukan pada prasasti di Palembang dari abad ke-7. Meskipun ditulis dalam tulisan Palawa dari India Timur dan dicampur dengan kata-kata pinjaman Sansekerta, bahasa itu adalah bahasa Melayu tua. Pada abad ke-7 para pelajar dari Cina belajar bahasa Melayu.
Di Universitas Peking, bidang studi bahasa Indonesia dibuka di Fakultas Bahasa-bahasa bagian Timur sejak tahun 1950, karena pada saat itu banyak permintaan terjemahan di Cina dengan tujuan untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia. Pada satu tahap bahasa Indonesia paling banyak diminati di fakultas tersebut karena memiliki para staf berpengalaman dan metode pengajaran yang efektif. Para pengunjung dari Indonesia mengungkapkan kekagumannya pada standar yang telah dicapai oleh pelajar/ mahasiswa. Tahun 1956 bahasa Indonesia dimasukkan ke dalam studi bahasa. Berkenaan dengan penelitian, di tahun 1950-an dilakukan beberapa analisis tata bahasa; tahun 1960-an sejarah budaya Indonesia diteliti dan publikasi tentang Indonesia sering muncul di media. Begitu juga dengan beberapa karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Cina menjadi populer di masyarakat. Novel-novel Indonesia seperti Salah Asuhan terjual laris dan mendapat sambutan kritis. Jadi, bahasa dan sastra Indonesia mulai dikenal di Cina. Kunjungan-kunjungan Presiden Soekarno tahun 1956 dan 1960, dan beberapa misi kebudayaan membuat budaya Indonesia menjadi terkenal di seluruh lapisan masyarakat. Pada intinya lagu-lagi Indonesia tetap terkenal dan film-film Indonesia sering diputar di beberapa bioskop. Sejumlah universitas mulai mengajarkan bahasa Indonesia.
Semua ini dihancurkan oleh Revolusi Budaya di pertengahan tahun 1960-an. Pada periode hubungan Indonesia dan Cina sedang dingin sepanjang rezim Orde Baru (hingga awal 1980-an) juga waktu yang tidak baik untuk orang-orang Indonesia di Cina, tetapi disiplin ilmu mulai bangkit kembali dan secara bertahap dibangun lagi di Universitas Peking, Institut Bahasa Asing Beijing, dan Institut Bahasa Asing Guangzhou. Kamus baru Indonesia-Cina dibuat pada tahun 1980-an, dan materi kurikulum bahasa yang baru sedang direncanakan dan dipersiapkan. Bidang utama penelitian ilmu bahasa Indonesia adalah linguistik bahasa Indonesia deskriptif dan topik-topik lain yang relevan dengan pengajaran bahasa, tetapi terjemahan sastra Indonesia sudah meluas. Sejak Cina terbuka kembali untuk ide-ide baru dari dunia luar, minat terhadap sastra dari negara-negara berkembang lainnya cukup besar, khususnya negara-negara Asia.
2.1.6 Italia
Menurut Rivai (1995 dan 1998), Indonesia lebih banyak berhubungan dengan Italia pada saat penjelajahan. Para penjelajah dan pencinta alam dari Italia melakukan perjalanan ke daerah Melayu/ Indonesia dari abad 13 sampai abad 19, kendati bagian lain Asia selalu menerima perhatian lebih dari orang-orang Italia. Perhatian utama yang berkenaan dengan bahasa Indonesia adalah studi-studi tersebut dilakukan dalam bahasa lokal di berbagai tempat, yang dapat diidentifikasi sebagai bahasa Melayu, bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) saat itu.
Bahasa Indonesia pertama kali diajarkan tahun 1950 di IsMeo (Instituto Italiano per il Medio ed Estremo Oriente) di Roma, tetapi tahun 1970 berhenti karena kurang peminat. Bahasa Indonesia diperkenalkan tahun 1964 di The Instituto Universitario Orientale in Naples, dan sampai saat ini institut tersebut satu-satunya universitas yang menawarkan bahasa Indonesia di Italia. The Instituto Universitario Orientale didirikan pada tahun 1732 dan salah satu universitas tertua di Italia, dan dikenal baik sebagai pusat studi Asia dan Afrika. Pelajar dapat mengikuti program 2 atau 4 tahun jurusan bahasa dan sastra Indonesia (Rivai, 1998)
Vatikan mengadakan program sendiri bahasa dan budaya Indonesia untuk anggota kependetaan yang akan ditempatkan di Indonesia. Institusi lain pun menawarkan kursus bahasa, dan juga banyak sekali orang-orang Italia yang belajar bahasa Indonesia sendiri melalui buku-buku.
Tigapuluh lima bahasa diajarkan di Instituto Universitario Orientale, yang memiliki Fakultas Bahasa, Fakultas Sastra dan Filsafat, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Sekolah Islam. Meskipun bahasa Indonesia diperkenalkan dengan landasan salah satu bahasa di dunia Islam, tetapi diajarkan pula di Fakultas Sastra dan Filsafat. Ada dua kursus, bahasa dan sastra Indonesia, dan bahasa Indonesia. Semua pelajar yang mengambil jurusan bahasa Indonesia mengambil pula jurusan bahasa lain disebabkan kurangnya kesempatan kerja bagi lulusan bahasa Indonesia.
Kurangnya permintaan dan juga kehadiran yang cukup rendah di kalangan pelajar merupakan suatu masalah, sebagian karena secara kenyataan kehadiran dalam perkuliahan tidak diwajibkan di Italia. Motivasi utama mereka dalam mempelajari bahasa Indonesia adalah karena mereka mengira bahasa Indonesia ‘mudah’ (bahasa Indonesia mudah dipelajari oleh penutur bahasa Italia karena sistem fonetik dari dua bahasa ini serupa/ mirip); karena daya tarik Indonesia yang eksotik; atau karena harapan mempelajari sesuatu ‘yang berbeda’. Di Italia pada umumnya tingkat pengetahuan tentang Indonesia rendah. Bahasa Cina, Arab, Jepang dan India lebih banyak peminatnya daripada bahasa Indonesia.
Kesulitan utama dalam pengajaran bahasa Indonesia di Italia adalah kurangnya materi pengajaran yang tepat. Buku teks yang tersedia kebanyakan dalam bahasa Inggris dan sudah ketinggalan zaman, sehingga akan menyesatkan pelajar. Kamus-kamus yang baik pun diperlukan.
2.1.7 Jerman
Menurut Nothofer (1998), penelitian terhadap bahasa Melayu/ Indonesia dan pengajaran bahasa Melayu/ Indonesia di universitas-universitas Jerman dimulai oleh seorang sarjana Jerman, Otto Dempwolff, yang juga dikenal sebagai pelopor linguis historis di bidang bahasa-bahasa Austronesia. Ia mengepalai bidang studi bahasa Indonesia yang dimulai tahun 1931 di Hamburg. Dia juga menyusun tata bahasa Indonesia pertama di Jerman tahun 1941.
Sejak Jerman terbagi dua setelah PD II, pengajaran bahasa Indonesia berjalan secara terpisah sampai penyatuan kembali. Berkenaan dengan Jerman Barat pertama, antara tahun 1950-an dan 1970-an bahasa Indonesia diajarkan di universitas-univeraitas Hamburg, Cologne, Bonn dan Frankfurt. Pengajaran bahasa dilakukan oleh dosen penutur asli yang menyusun sendiri materi pengajaran. Penerbitan buku kursus Wolff dan John (Wolff 1975 dan Johns 1977) menandai periode baru pengajaran bahasa Indonesia di Jerman. Meskipun buku-buku tersebut ditujukan untuk penutur bahasa Inggris, dapat juga digunakan oleh pelajar penutur bahasa Jerman karena pelajarannya berbasis dialog-dialog; penjelasan tata bahasa tidak begitu teknis dan latihan-latihan tata bahasa dan latihan laboran bahasa diterangkan dengan jelas. Ini berarti bahwa penekanan baru pada bahasa lisan menjadi memungkinkan dan juga laboran-laboran bahasa menjadi bagian integral dalam pengajaran bahasa Indonesia di Jerman.
Oleh karena tersedianya materi-materi pengajaran baru, Universitas Cologne membuka kursus intensif bahasa Indonesia untuk pelajar dari berbagai universitas di Jerman pada tahun 1976. Kebanyakan para pelajar bermaksud mengunjungi Indonesia untuk mengadakan penelitian di bidang antropologi, sosiologi, sejarah. Kursus intensif ini cukup banyak peminat selama tiga tahun. Akademik di Cologne menyimpulkan bahasa buku kursus bahasa Indonesia bagi penutur bahasa Jerman sangat dibutuhkan karena tiga alasan: 1) buku kursus harus membandingkan bahasa target dengan bahasa ibu, misalnya Jerman; 2) jenis bahasa yang digunakan dalam buku Wolff Beginning Indonesian dinilai terlalu informal; dan 3) kosa kata dalam buku John Langkah Baru dinilai tidak sesuai untuk rencana penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa Jerman di Indonesia
Proyek untuk membuat buku kursus bagi pembelajar dari Jerman dimulai pada awal tahun 1980 dengan mendapatkan dana dari Yayasan Volkswagen. Volume 1 Bahasa Indonesia. Indonesisch für Deutsche muncul pada tahun 1985 dan volume 2 tahun 1987. Di akhir tahun 1992, terjual 5000 kopi. Buku ini digunakan di beberapa kursus intensif Universitas Frankfurt tahun 1980-an.
Pada saat yang sama terjadi perkembangan baru, bahasa Indonesia mulai diajarkan tidak hanya di empat universitas yang menawarkan bahasa Indonesia sebagai bidang studi, tetapi juga universitas-universitas yang spesialisasinya di bidang sosiologi, sejarah, antropologi dan kajian Asia.
Pada tahun 1980-an diterbitkan sebuah kamus berkualitas yang pertama. Terjemahan sastra Indonesia juga mulai muncul dari awal tahun 1980-an dan sampai sekarang digunakan sebagai materi pengajaran. Saat ini bahasa Indonesia diajarkan di Passau, Hamburg, Frankfurt, Cologne, Bremen, Göttingen, München, Bielefeld and Mainz, dengan program Master yang paling banyak. Jumlah keseluruhan pelajar yang dilaporkan oleh Nothofer sebanyak 440 orang.
Di bekas Jerman Timur, tiga institusi pendidikan lebih tinggi telah mengajarkan bahasa Indonesia sejak PD II yakni: Berlin, Jena dan Leipzig. Jumlah siswanya sangat sedikit. Kemajuan ini terhambat oleh tiga faktor: 1) sebagian besar pengajar bahasa Indonesia di Jerman Timur belajar bahasa Indonesia sebelum tahun 1965, sehingga hanya tahu bahasa Indonesia yang digunakan sebelum 30 September 1965. Tidak lama kemudian mereka mengunjungi Indonesia dan praktek berbicara dengan penutur asli; 2) para pengajar bahasa Indonesia yang belajar setelah tahun 1965 tidak memiliki kesempatan pergi ke Indonesia dan berbicara dengan penutur asli, sehingga bahasa mereka tidak fasih dan ketinggalan zaman; dan 3) para pengajar bahasa Indonesia tidak mendapat kesempatan untuk menghadiri konferensi bahasa Indonesia di negara-negara Barat, terutama setelah tahun 1963.
Hal-hal tersebut dapat dijelaskan bahwa akademik di Jerman Timur kurang beruntung dan terpisah dari negara-negara Barat dan Indonesia selama 30 tahun. Berbeda dengan akademik di Jerman Barat yang mendapat akses mudah untuk memperoleh buku-buku kursus dan konsep metode yang lebih baru, begitu pula hubungan dengan Indonesia yang tidak berhenti.
2.1.8 Korea Selatan
Chung (1998) menyatakan bahwa di Korea Selatan bahasa Indonesia diajarkan di dua universitas, Universitas Bahasa Asing Hankuk dan Pusan, dan juga di Akademi Bahasa Asing Pusan. Antara tahun 1964 sampai 1991 jumlah siswa sebanyak 1150 orang dengan jurusan bahasa dan budaya Indonesia/ Melayu lulusan dari dua universitas Korea, dan tiap tahun menghasilkan lulusan sebanyak 43 orang. Sayangnya hanya sedikit dari mereka yang memperoleh pekerjaan sesuai dengan kualifikasi mereka. Rupanya perusahaan-perusahaan Korea-seperti di Australia-tidak memperkerjakan orang dari keahlian bahasa.
2.1.9 Inggris
Meskipun bahasa Indonesia tidak diajarkan di Inggris sampai tahun 1967, tetapi ada sejarah panjang keterlibatan Inggris dengan bahasa Melayu, menurut Kratz (1998). Tahun 1614 kosa kata Inggris-Melayu diterbitkan oleh Spalding. Tahun 1701 kamus Inggris-Melayu dengan tata bahasa singkat dimunculkan oleh Bowre, dan pada tahun 1812 kamus dan tata bahasa dipublikasikan oleh Marsden.
Sejak Perjanjian London antara Inggris (Britania) dan Belanda di tahun 1824 yang merasionalisasikan dua negara milik kolonial, para peneliti Inggris langsung memberi perhatian lebih pada semenanjung Malaya yang berada di kepulauan Indonesia. Dengan sangat mengherankan perhatian itu sebagian besar datang dari univeritas-universitas luar, dari para karyawan kantor kolonial, bukan akademik sampai pertengahan abad ini (Kratz 1998).
Bahasa Indonesia diperkenalkan di School of Oriental and African Studies (SOAS) di Universitas London tahun 1967. Sampai saat ini SOAS satu-satunya institusi pendidikan di Inggris yang menawarkan bahasa dan sastra Melayu dan Indonesia dari tingkat pemula sampai doktor seperti Universitas Leiden. Karena kekurangan staf pengajar, bahasa Indonesia tidak dapat dipelajari sebagai tingkat khusus, tetapi dikombinasikan dengan bahasa Melayu, Belanda, Arab, Antropologi, Ekonomi, Musik, Sejarah, Hukum, Politik dan Agama komparatif.
Sampai saat ini studi sastra tradisional Melayu dan Indonesia telah ditekankan. Jumlah keseluruhan pendaftar bahasa Indonesia dan Melayu adalah 30, dan ini merupakan proporsi yang sangat kecil.
2.2 Problematika Pengajaran BIPA
Terdapat berbagai permasalahan yang berkaitan dengan tawaran BIPA di berbagai negara. Sunendar (2000:185) menyatakan beberapa permasalahan pada pengajaran BIPA, yaitu :
§ Kurangnya penanaman impresi yang baik.
- Kesulitan menentukan/menemukan materi-materi.
- Pengajar dan pembelajar terperangkap pada masalah struktur / tatabahasa.
- Pembelajar memiliki latar belakang bahasa yang memiliki karakter huruf berbeda dengan bahasa Indonesia (karakter huruf latin).
Hidayat (2001:1) mengemukakan pula berbagai kendala yang menyebabkan mahasiswa asing kurang menguasai struktur kalimat bahasa Indonesia, yaitu:
- Kandungan makna yang terdapat dalam struktur kalimat BI masih kurang mereka pahami;
- Pemahaman terhadap konsep struktur kalimat BI masih samar-samar;
- Satuan-satuan linguistik yang menjadi unsur pembangun kalimat BI belum mereka kuasai;
- Kerancuan pemahaman terhadap posisi fungsi, kategori dan peran dalam sebuah kalimat;
- Penggunaan BI masih dipengaruhi kebiasaan penggunaan berbahasa ibunya;
- Struktur pola kalimat BI berbeda dengan struktur kalimat bahasa ibu mereka;
- Penguasaan kosakata dan proses pembentukannya belum banyak mereka ketahui
- Penguasaan membaca buku-buku kebahasaan masih kurang.
Masih menurut Hidayat (2001:4), ia juga mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun struktur kalimat bahasa Indonesia adalah keefektifannya, sebab suatu struktur kalimat tidak hanya ditinjau dari segi bentuk dan prosesnya semata-mata melainkan harus pula diperhatikan fungsi praktis kalimat sebagai alat komunikasi. Sebuah kalimat dapat dikatakan efektif apabila kalimat tersebut dapat dijadikan alat penyampai ide, gagasan atau pesan pembicara atau penulis kepada penyimak atau pembaca sehingga si penyimak atau pembaca itu dapat memahami kandungan maksud yang disampaikan si pembicara atau penulis. Oleh karena itu, keefektifan suatu kalimat sangat perlu diperhatikan. Untuk itu, suatu kalimat dapat dikatakan efektif apabila memiliki: 1) kesatuan gagasan, 2) koherensi yang kompak, 3) diksi yang cocok, 4) ragam atau variasi, 5) paralelisme, 6) kelogisan yang runtut dan runtun, 7) penekanan, dan
kehematan.
Masalah lain yang dapat timbul adalah masalah pemahaman lintas budaya. Masalah silang budaya ini dalam pengajaran bahasa bagi penutur asing bukanlah isu yang baru. Pada akhir Perang Dunia II, ide tentang pengkajian bahasa yang dikombinasikan dengan pengkajian budaya dan masyarakat sudah sangat lazim bagi para ahli. Hal ini tercermin dalam tulisan-tulisan mengenai pengajaran bahasa yang dikerjakan antara lain oleh Lado, Brooks, Rivers, dan Chastain. Oleh karena itu, teori pembelajaran bahasa yang melupakan hal itu dan hanya menekankan pada aspek kebahasaan semata-mata adalah keliru. Para penganut teori itu mengatakan bahwa pengajaran bahasa haruslah diintegrasikan dengan budaya yang berlaku dalam masyarakat bahasa target.
Di Australia, hambatan khas terhadap perkembangan BIPA adalah “kurangnya lowongan pekerjaan atau jabatan untuk mereka yang mempunyai kemahiran dalam BI”, dan di Korea, menurut Young-Rhim (1988), “hambatan lain yang kami rasakan hanyalah mengenai materi pelajaran”. Di Amerika Serikat, persoalan mutu pelajaran masih harus diupayakan pemecahannya, sebagaimana diutarakan oleh Sumarmo (1988). Di Jerman, karena minat mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia terus meningkat, upaya perlu dilakukan “melalui peningkatan penulisan dan penerbitan buku tentang Indonesia baik dalam bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia”. Di Jepang guru BIPA “membutuhkan kamus yang lengkap, terutama kamus yang lengkap dengan contoh pemakaian kata yang cukup banyak” (Shigeru, 1988).
Dalam menanggapi kebutuhan akan ketersediaan bahan masukan bahasa dalam konteks pengajaran BIPA ini, perlu diamati berbagai faktor. Misalnya, ada beberapa karakteristik masukan agar masukan itu bisa diperoleh secara cepat dalam konteks pemerolehan bahasa. Keterpelajaran masukan tersebut antara lain ditentukan dengan karakteristik: keterpahaman, kemenarikan dan/ atau relevansi, keteracakan gramatis, dan kuantitas yang memadai (Krashen, dalam Abdul-Hamied, 1988).
Karakteristik keterpahaman bisa diamati dari perkembangan pemerolehan B2 atau bahasa asing lewat bahan yang tidak bisa dipahami. Karakteristik kemenarikan dan/ atau relevansi diharapkan bisa mendorong si pemeroleh untuk memusatkan perhatian pada isi ketimbang pada bentuk. Masukan yang menarik dan relevan diharapkan mampu menciptakan kondisi pada si pemeroleh sedemikian rupa sehingga ia “lupa” bahwa apa yang sedang diresepsinya diproduksi dalam bahasa kedua atau asing. Dalam situasi belajar mengajar di kelas karakteristik ini sukar dipenuhi, karena keterikatan waktu dan keharusan meliput bahan yang sudah tentera dalam silabus. Dalam hal karakteristik keteracakan gramatis, diketengahkan bahwa manakala masukan itu terpahami dan makna dinegosiasi secara berhasil, masukan yang diisitilahkan oleh Krashen sebagai i+1 itu akan secara otomatis hadir.
Dalam membicarakan pengajaran dan pembelajaran bahasa, faktor lingkungan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa itu. Faktor lingkungan makro meliputi: (1) kealamiahan bahasa yang didengar; (2) peranan si pembelajar dalam komunikasi; (3) ketersediaan rujukan konkret untuk menjelaskan makna; dan (4) siapa model bahasa sasaran. Sedangkan faktor lingkungan mikro mencakup (1) kemenonjolan (salience), yaitu mudahnya suatu struktur untuk dilihat atau didengar; (2) umpan balik, yaitu tanggapan pendengar atau pembaca terhadap tuturan atau tulisan si pembelajar; dan (3) frekuensi, yaitu seringnya si pembelajar mendengar atau melihat struktur tertentu (Dulay, Burt, dan Krashen, dalam Abdul-Hamied, 1988).
Berkenaan dengan faktor lingkungan mikro, yang pertama adalah kemenonjolan. Kemenonjolan ini merujuk pada kemudahan suatu struktur dilihat atau didengar. Ia adalah ciri tertentu yang tampaknya membuat suatu butir secara visual atau auditor lebih menonjol dari pada yang lain. Faktor lingkungan mikro yang kedua adalah umpan balik. Salah satu jenis umpan balik adalah pembetulan, yang lainnya adalah persetujuan atau umpan balik positif.
Faktor lingkungan mikro yang ketiga adalah frekuensi yang diasumsikan sebagai faktor berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa. Makin banyak si pembelajar mendengar suatu struktur, makin cepat proses pemerolehan struktur itu. Tetapi penelitian lain ternyata telah menelorkan hasil yang berbeda (Dulay, Burt, Krashen, dalam Abdul-Hamied, 1988).
Ciri-ciri bahan masukan dalam pengajaran BIPA ini termasuk bahan masukan itu sendiri dalam bentuk bahan belajar-mengajar telah tersedia cukup banyak bila guru BIPA mau melanglangbuana ke sana ke mari lewat berbagai media yang ada. Salah satu di antara media yang akan membantu pengembangan bahan ajar serta akan berkontribusi pada upaya peningkatan berbahasa itu adalah media teknologi, khususnya internet.
2.3 Pemanfaatan Media Teknologi dalam Pembelajaran BIPA
Penggunaan hasil teknologi dalam pendidikan merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Penggunaan hasil teknologi dalam pengajaran bahasa yang sekarang sudah dikenal dan dipakai dalam dunia pendidikan, antara lain penggunaan media pengajaran seperti slide, OHP, komputer, dan laboratorium bahasa. Sehubungan dengan berkembangnya teknologi komputer yang dapat mengakses internet, maka keterbatasan sumber-sumber belajar, informasi, pengenalan bahasa, mulai dapat teratasi.
Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, lembaga-lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan tinggi, tampak terus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan para “civitas akademika”-nya memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang tersedia untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran dan pemberian layananan kepada mahasiswa. Berbagai fasilitas yang dimaksud antara lain adalah berupa pengadaan perangkat komputer (laboratorium komputer), koneksi ke internet, pengembangan website, pengembangan Local Area Network (LAN), dan lain-lain.
Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi konvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh. Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.
Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, mahasiswa dapat berkomunikasi dengan dosennya kapan saja, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasinya bisa tertutup antara satu mahasiswa dengan dosen atau bahkan bersama-sama melalui grup. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak. Melalui e-Learning, para mahasiswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para mahasiswa. Kegiatan pembelajaran terjadi melalui interaksi mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet.
Kecenderungan untuk mengembangkan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Sampai saat ini pembelajaran bahasa yang memanfaatkan e-learning berbasis konsep multimedia belum berkembang dengan optimal di Indonesia.
Salah satu kendala pengembangan media ini adalah kurang dikuasainya teknologi oleh para pengajar. Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, dalam makalah ini akan ditampilkan kiat-kiat pemanfaatan fasilitas e-learning dalam pembelajaran bahasa. Makalah ini diharapkan pula dapat menjadi salah satu acuan dalam merencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul-Hamied, F. 1988. Keterpelajaran dalam Konteks Pemerolehan Bahasa. Makalah Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa II Unika Atmajaya, Jakarta, 23-24 Agustus.
Abdul-Hamied, F. 1997. Pengembangan Pendidikan Bahasa dan Seni lewat Medium Internet. Makalah Seminar Pemanfaatan Internet, FPBS IKIP Bandung 26 Maret 1997.
Alwi, Hasan. 1995. BIPA: Hari Ini dan Esok. Jakarta : Makalah di Kongres Internasional Pengajaran BIPA Universitas Indonesia, 28-30 Agustus 1995.
Bovee, Courland. 1997. Business Communication Today. New York : Prentice Hall.
Brown, H. Douglas. 1994. Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey : Prentice Hall Regents
Chambert-Loir, Henri.1998. Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing di Perancis Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII. 26-30 Oktober 1998.
Chung, Young-Rhim.1998. Keadaan Pengajaran Bahasa Indonesia di Korea. Jakarta : Makalah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Seminar Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000.
Collins, James. 1998. Kemajuan Penelitian Bahasa Indonesia di Amerika Serikat Jakarta : Makalah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Seminar Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000.
Darwowidjojo, Soenjono .1978. Sentence Patterns of Indonesian. Honolulu: University of Hawaii Press.
Darwowidjojo, Soenjono .1982. Vocabulary Building in Indonesian – An Advanced Reader. Ohio: Ohio University.
Hidayat, Kosadi. 2001. Kendala-kendala Penguasaan Struktur Kalimat Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa Asing pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FPBS UPI Bandung. [online] Tersedia : http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/kosadihidayat.htm [9 Maret 2007]
Hubbard, Peter et al. 1983. A Training Course for TEFL. Oxford : Oxford University Press.
Lee, Kwuang-wu. 2000. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. VI, No. 12, December 2000. Tersedia [online] : http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/ [9 Maret 2007]
Hardini, Tri Indri. 2006. Pembelajaran Elektronik (E-Learning) : Alternatif Pembelajaran Bahasa Berbasis Konsep Multimedia. Bandung : Makalah Seminar “Peningkatan Pembelajaran Bahasa Asing dalam Upaya Memenuhi Tuntutan Stakeholders di Era Globalisasi” STBA Yapari-ABA Bandung, 24 Juli 2006.
Huang Chenfang.1998. Penelaahan, Pengajaran Bahasa, dan Budaya Indonesia di Beijing. Jakarta : Makalah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Seminar Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000.
Kratz, E.U. 1988. Keadaan dan Perkembangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Negara Inggris. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia V 28 Oktober – 2 November, 1988.
Liang, Liji. 1988). Pengajaran dan Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia Di Tiongkok. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia V 28 Oktober – 2 November, 1988.
Mackie, Jamie. 1991. The state of Southeast Asian studies in the USA. Asian Studies Review 14(3): 129-132.
Nimmanupap, Sumalee.1998. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing di Thailand. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII. 26-30 Oktober 1998.
Nothofer, Bernd. 1998. Perkembangan Pengajaran Bahasa Indonesia di Jerman. In Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jakarta : Makalah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Seminar Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000.
Nothofer, Bernd dan Rachmat Ejoko Pradopo. 1988. Keadaan dan Perkembangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Republik Federal Jerman. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia V 28 Oktober – 2 November, 1988.
Rivai, S. Faizah Soenoto.1995. Pengajaran Bahasa Indonesia di Italia. Jakarta : Makalah di Kongres Internasional Pengajaran BIPA Universitas Indonesia, 28-30 Agustus 1995.
Rivai, S. Faizah Soenoto.1998. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26-30 Oktober 1998.
Sato, Masanori. 1995. Satu Tinjauan mengenai Bahan Pelajaran Bahasa Indonesia di Universitas-Universitas Jepang . Jakarta : Makalah di Kongres Internasional Pengajaran BIPA Universitas Indonesia, 28-30 Agustus 1995.
Schocolnik, Miriam. 1999. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. V, No.3, March 1999, Tersedia [online] : http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/ [7 Maret 2007]
Shigeru, Morimura.1988. Keadaan dan Perkembangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Jepang . Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26-30 Oktober 1998.
Soemarmo, Marmo.1988. Keadaan dan Perkembangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Amerika Serikat. Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26-30 Oktober 1998.
Steinhauer, H. 1998. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing di Belanda . Jakarta : Makalah di Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26-30 Oktober 1998.
Sugono, Dendy. 2003. Bahasa Indonesia Masuk Pasar Bebas. Harian Kompas Senin, 13 Oktober 2003 halaman 50.
Sunendar, Dadang. 2000. Alternatif Materi Pelajaran BIPA Tingkat Pemula. Makalah KIPBIPA III.Bandung : Andira.
Thorn. W. 1995. Points to Consider when Evaluating Interactive Multimedia. The Internet TESL Journal, 2(4).
Wolff, John U. 1975. Beginning Indonesian. Ithaca: Cornell University Press.
Wolff, John U. 1984 and 1986. Beginning Indonesian through Self-Instruction. Books 1-3. Ithaca, New York: Cornell University.
1 Dosen tetap Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FPBS IKIP PGRI Bojonegoro.